Thursday, 11 September 2008

Ramadhan

Ramadhan, demikianlah orang menyebutnya, rangkaian hari dalam sebulan yang penuh dengan untaian rahmat Ilahi, lantunan ayat-ayat suci, dzikir, sedekah, zakat, dan banyak lagi kebaikan dan berkah didalamnya. Seandainya dalam setiap tahunnya selalu dilalui dengan indahnya ramadhan. Atau mungkinkah kita sebagai umat Islam telah salah dalam memahaminya? Seakan ramadhan hanyalah satu-satunya waktu dalam ajang kontes pertandingan amal dimana seluruh umat berlomba menjadi juara, namun di bulan yang lainnya tidak ada bekas sama sekali dalam kehidupan serta perilakunya.

Ramadhan adalah bulan pelatihan diri, bukan hanya pelatihan dimensi spiritual saja, namun ia merupakan olah fikir, olah jiwa dan olah raga. Bilamana manusia tanpa siyam/puasa, tanpa latihan menahan diri, sebagaimana bilamana ia tanpa rukun/tiang Islam yang lain, apalagi tanpa ajaran Islam sedikitpun.

Banyak yang takut dan phobia terhadap Islam karena ada yang memakai Islam untuk alat kepentingan dirinya, keluarganya atau kelompoknya; sebab dalam sejarah agama manapun hal tersebut sering terjadi; agama untuk kepentingan dirinya, keluarganya, kroni-kroninya, kelompoknya, golongannya dsb.

Hal ini harus diluruskan, dikembalikan lagi bahwa Islam adalah penghormatan dan penghargaan, islam adalah identitas, pelatihan, pendidikan dan pelatihan untuk selalu berlomba-lomba fastibiqul khairat dunia akhirat.

Diatas status dan fungsi itu semua Ramadhan merupakan ibadah, ubudiah, pengabdian; bakti, persembahan; penyembahan, penghambaan.

Puasa merupakan ujian menuju perolehan maslahat manusia sendiri. Sayang kita kurang atau bahkan tidak sadar,seakan itu untuk Allah swt. saja, berdasar sabda Rasul dalam hadits:

....fa'innahuu lii, wa ana ajzii bihii,dst.; artinya puasa adalah untuk KU. Kita harus menyadari bahwa puasa kita, ramadhan kita banyak mengandung nilai plus bagi diri kita. Ia merupakan Santapan otak, bimbingan jiwa dan tuntunan budi menuju kualitas insan yang berTAQWA. Dalam Islam, tidak ada kegiatan ibadah yang sepi dan kosong dari kandungan unsur kejiwaan dan nilai – nilai kemanusiaan. Penataan aneka ragam bangsa juga ditanamkan dalam sendi-sendi IBADAH KITA. termasuk juga ibadah Ramadhan. Sehinga dengan berpuasa kita bisa menjernihkan hati, mencerahkan fikiran dan menggelorakan amal shaleh.

Maka salah apabila kita menilai puasa dan ibadah-ibadah yang lainnya sebagai dimensi individual-spiritual, hubungan vertikal tanpa unsur horizontal. Islam mencakup semua. Vertikal dan horizontal, spiritual dan intelektual. Maka dari itu naif apabila ada segolongan orang dengan melihat pengalaman pahit umat beragama lain menyatakan bahwa Islam adalah agama pribadi, agama antar individu dan tuhannya. Karena banyak sekali unsur pembelajaran sosial dibalik ritual ibadah tersebut. Dalam hal ibadah shalat misalnya, imam sholat/masjid, siap dengan cadangan yang tak kurang kualitasnya. Apa dasar filisofis, rahasia, hikmah "WHY, mengapa?" nya. Adzan, waktu dan "the man" nya, juga lafadh-lafadhnya.

Kesehatan, kekuatan dan kesabaran sebagai tiang - tiang persyaratan setiap ibadahnya. Subuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya' dengan kedisiplinan disiplin dan rahasia - rahasianya, spesifikasinya. Di tambah dengan sarana dan prasarana kualitas keikhlasan, kekhusyukan yang harus diupayakan dengan perwujudan maksimal. Why? Disinilah salah satu tanda universalitas Islam. Yang merangkul segala aspek kehidupan. Islam bukan hanya olah rohani, namun upaya dalam melatih kesadaran manusia untuk sholeh secara individu, sholeh secara sosial dan menjunjung tinggi profesionalisme dengan catatan berlandaskan pada ajaran qur’an dan sunnah rasulNya. Sehingga kebahagiaan dunia akhirat bisa tergapai. Ramadhan, merupakan salah satu rangkaian ibadah untuk menuju tujuan tersebut.

Disinilah diperlukan kesadaran individu dalam berIslam. Pidato, ceramah, diskusi, dialog, seminar, dan sebagainya tidak cukup, belum menjamin keberhasilan penyadaran. Kesadaran diharapkan datang bila dikerjakan dengan faham yang benar. Maka, kegiatan-kegiatan Ramadhan, sayang bila kurang diintensifkan; dilengahkan! Merugilah kita bila dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya justru menurun kwalitas dan kwantitasnya, rugi dan merugikan! Kehilangan sesuatu yang mahal tidak pantas kalau tidak menimbulkan penyesalan.

Untuk mewujudkannya, memang perlu usaha membina, menciptakan kemauan, kesempatan dan miliu penunjang. Tidak berdosa, insya Allah, bila dilakukan dengan sedikit pemaksaan. Harus diingat bahwa syetan juga mengintensifkan pemaksaan agar tidak taat. Kita berusaha,berupaya, IBLIS menggoda kita; tidak berusaha, tidak berupaya IBLIS juga menggoda. "berpuasa, menahan diri, membentengi nafsu ditengah-tengah arena pesta pora kema'siatan: makan, minum, gerakan/tontonan/pertunjukan syahwat keduniaan, merupakan ajang pelatihan diri, pembelajaran dan penyadaran diri. Dengan puasa ramadhan umat kita akan berhasil memenanginya! Hingga IBLISpun gigit jari!

Ramadan merupakan ujian sikap nyata,dalam amal perbuatan, bukan ujian lisan bukan ujian tulis juga bukan sekedar ujian fisik kekuatan. Spesifikasi Ramadhan sebagai bulan obral rahmat kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNYA, investasi ritual, dan sosial. Haruslah kita manfaatkan dengan sesempurna mungkin sebagai Benteng proteksi total dari segala macam dan bentuk bisikan rayuan kesesatan.

Kegiatan ramadhan adalah ibadah, keilmuan, kesadaran, kepedulian dan kemasyarakatan, mewaspadai penjajah akbar, paling berat "PEMUASAN NAFSU DIRI", sebab kalau dibebaskan, tidak disegerakan, sampai melestarikan Ibahiyyah, Permisivveness sungguh akan merusak kesehatan jiwa raga kita nantinya. Siyam Romadlan Kita bukan berupa menghadiahi sesaji makan minum, jasa kepada ALLAH tapi dengan bakti pengabdian total dan pengorbanan maksimal, kapital aset-aset tabungan dihari penghitungan,"yaumul hisaab" menuju falaah, kemenangan, sa'aadah, kebahagiaan. Untuk di dunia, Untuk diri kita, dan untuk akhirat kita.

Kalau ada orang kafir mengatakan " It's good for you but not good for me" maka demikianlah ma'na ibadah dalam Islam. ALLAH punya kriteria, dan raport tersendiri.





“The Raison d’etre” Keselarasan Antar Agama di Pakistan

Islam telah banyak melahirkan revolusi peradaban dan dinamika budaya, yang semua itu tak lepas dari ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW berupa Al-Qur’an dan Sunah Rasul. Dalam setiap kehidupan telah diatur di dalamnya, tak terkecuali urusan Politik, Ekonomi, dll. karena Islam merupakan suatu budaya, agama dan negara. Begitu pula Islam telah banyak berpengaruh dalam meningkatnya sumber daya manusia secara keseluruhan. Pantas kalau hal tersebut menjadi landasan berdirinya sebuah negara Islam.

Pakistan merupakan salah satu negara dari sebagian kecil negara di dunia yang berdiri berasaskan agama. Dengan ditetapkannya Islam sebagai ideologi mereka, sebagian besar sistem dan aturan agama diberlakukan lebih dominan dalam berbagai permasalahan sosial. Maka, salah satu syarat yang diberlakukan untuk menjadi Presiden Republik Islam Pakistan-pun harus seorang muslim yang mampu menjalankan semua aturan-aturan Islam sebagai muslim yang baik dan juga berstatus penduduk asli Pakistan. Dengan demikian, Islam merupakan agama dengan tuntunan yang harus dijalankan bagi seluruh penganutnya, dan menjadi tata aturan dalam pemerintahan Pakistan itu sendiri.

Pakistan berdiri karena keinginan penduduk muslim di anak benua (sub-kontinen) untuk membangun tempat tinggal dan kehidupannya sesuai dengan ajaran dan tradisi Islam, bahwasanya mereka ingin mendemonstrasikan kepada dunia bahwa Islam mampu memberikan obat mujarab untuk setiap penyakit yang mana telah menyerang kehidupan manusia hingga saat ini. Maka Pakistan didirikan dengan alasan Ideologi dan kemanusiaan. Karena konflik yang terjadi antara muslim dan Hindu bukanlah urusan politik semata, tapi merupakan masalah ideologi. Ini merupakan suatu perjuangan yang patut dikagumi bagi sekalian muslim demi tegaknya negara Islam Pakistan.

Namun lain halnya kenyataan yang sekarang ini hadir di tengah-tengah kita, sebuah fenomena sosial yang sedikit banyak menyita perhatian berbagai kalangan hingga masyarakat luas. Bukanlah hal yang aneh memang, bila suatu negara yang dibangun berdasarkan agama, kemudian tumbuh berkembang lalu melupakan bahkan meninggalkan landasan atau pondasi kenapa semula ia dijadikan. Berbagai budaya dan tradisi baru mulai bermunculan di hampir seluruh Negara Islam, tak terkecuali seperti yang kita perhatikan belakangan ini di Negeri Ali Jinnah, Pakistan. Sebuah masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah muslim dengan tatanan dan banyak aturan-aturan islami. Bahkan seperti yang telah disebutkan di atas, Pakistan merupakan Negara yang berdaulat Islam. Sejarah nyata telah seringkali kita dengarkan bagaimana perjuangan para pendiri beserta laskarnya untuk membebaskan umat Islam di Sub-Continent pada masa itu, agar bisa menjalankan syariat Islam dengan baik dalam sebuah naungan Negara Islam. Hingga tercapailah harapan mereka dengan berdirinya Negara Islam Pakistan, yang tentunya tak lepas dari masalah-masalah yang mulai bermunculan kemudian. Seperti urusan sekte, perbedaan agama, dll.

Kiprah para muslim yang berjuang di berbagai bidang dan sektor-sektor penting Negara, dari sebelum berdirinya Pakistan hingga saat ini sudah sangat besar menambah kredibilitas dan kekuatan Islam untuk membangun Pakistan, baik Ekonomi, Politik, Sosial-Budaya, dll. Walaupun tidak secara gamblang diterangkan, namun akan terlihat jelas disini bagi sebagian massa yang menjunjung tinggi arti sebuah Nasionalisme Bangsa, bahwa penduduk muslim adalah penduduk sah Pakistan dengan adanya mayoritas dan minoritas kelompok dalam negeri. Dengan kata lain berarti penduduk non-muslim sebagai agama minoritasnya.

Sebagian orang akan berpendapat bahwa sebuah negarapun bisa maju bila mungkin tidak melahirkan beragam sekte khusus, atau menggolongkan penduduk ke dalam kelompok-kelompok tertentu, sehingga tidak menjadikan adanya kelompok minoritas dalam suatu negara. Seperti halnya fenomena agama minoritas di berbagai bahkan hampir di semua negara, termasuk Pakistan. Sebuah permisalan Zia ul Haq yang dikenal sebagai Presiden diktator militer Pakistan, saat beliau mencabut hak suara penduduk minoritas (non-muslim) dalam pemilihan. Dengan sistem hak suara yang terpisah antara muslim dan non-muslim maka akan menggeserkan peralihan suara pula. Kemudian Zia ul Haq juga membagi seluruh penduduk negeri ke dalam lima kelompok agama/kepercayaan dan tidak diperbolehkan bagi agama minoritas untuk memberikan suaranya atas orang muslim. Begitu pula tidak diperkenankan untuk memilih non-muslim (agama minoritas). Walhasil penduduk muslim akan lebih mengabaikan agama minoritas dan akan menjadikan mereka sebagai warga negara kelas dua atau tiga, layaknya “orang asing” di Tanah Air mereka sendiri, sebuah kampung halaman dimana nenek moyangnya telah tinggal sejak bertahun-tahun bahkan ribuan tahun lalu.

Sejak saat itulah maka dibentuk “The Raison d’etre”. Yang maksudnya tidak lain adalah suatu keadaan dengan adanya perbedaan atau perbandingan manusia ke dalam kelompok-kelompok. Karena tidak adanya alternatif lain yang dapat mereka ambil, dan hanya ada satu garis besar yang menyatakan bahwa masyarakat mayoritas dan tempat untuk masyarakat yang beragama minoritas. Pada konstitusi tahun 1973 dengan suara bulat, maka telah disetujui oleh seluruhnya usul perubahan dalam satu sekte disebutkan Ahmadiyah seperti halnya non-muslim yang dengan demikian menjadi agama minoritas. Ini juga termasuk di dalamnya penduduk Hindu, Kristen, dll.

Hal demikian merupakan konteks ideologi sebagai negara Islam, bahwa sistem pemilihan yang terpisah memberikan peranannya untuk suatu perusakan atau pembinasaan dalam pemerintahan ketika diktator militer memperkenalkan sebuah sistem tersebut yang mana bertujuan untuk membagi suatu Negara ke dalam jangkauan yang lebih luas lagi. Dengan kata lain, menjadikan masyarakat Kristen dan Hindu hanya bisa memberikan suaranya kepada agama mereka sendiri pada masa itu, yang kemudian lahirlah pusat pembangunan sumber daya manusia atau yang mereka sebut sebagai “Human Development Centre”. Tentu saja itu akan menimbulkan tekanan pada keharmonisan antar masing-masing kepercayaan yang ingin mempromosikan sebuah kesepakatan dan kerjasama antar kelompok-kelompok tersebut. Salah satu alasan kenapa timbul banyak kerusakan dimana-mana adalah masih adanya pemisahan atau penggolongan masyarakat. Maka kita akan melihat sebuah fenomena dalam konteks nyata negara Pakistan, yaitu Negara yang berideologikan Islam kokoh dan kuat, yang kemudian akan nampak selanjutnya kibaran bendera agama minoritas yang mana mereka layaknya sekelompok orang asing dari segala segi dan dalam setiap level.

Membangun sosial Islam yang ideal haruslah memperhatikan kepada perkembangan pola kehidupan dan isu-isu sosial yang erat sekali kaitannya dengan perbedaan-perbedaan dalam kasta, kepercayaan, warna, daerah, status ekonomi, dll., dengan tetap menjunjung tinggi norma-norma dan nilai akhlak.

Keselarasan antar kepercayaan yang sama sekali berbeda bukanlah kemewahan atau kesenangan, tapi justru merupakan sebuah keharusan yang mutlak. Ia mengalir dari ideologi negara dimana para muslim bersama-sama mengangkat dan memperbaiki aturan-aturan yang ada. Reformasi dan reformulasi atas ideologi ini mampu menghendaki keberanian yang besar dan kerja keras. Namun itu merupakan agenda pokok kekuatan liberal dalam negara. Tapi dalam kurun waktu terakhir ini, hal itu hanyalah mimpi semata. Realita yang menuntut adanya keselarasan antar agama, dimana muslim dan non-muslim berkolaborasi bersama untuk memajukan bangsa, bahu-membahu setiap hari dan bekerja biasa seperti penduduk lainnya dalam satu negara yang sama.

Tentunya sebagai muslim kita dapat mengerti apa saja yang diberlakukan dalam syariat Islam. Sunah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menghormati sesama, tidak merendahkan yang satu dari yang lainnya. Karena sebagai muslim kita harus percaya, bahwa agama dan Tuhan kita adalah yang benar. Namun kita tidak melupakan agama atau kepercayaan yang dianut oleh umat lainnya, tetap bertoleransi sesuai dengan batasan yang telah diatur dalam Islam. Begitupun juga telah dikatakan dalam pidatonya Muhammad Ali Jinnah, pada majelis konstitusi 11 Agustus, beliau mengatakan kepada seluruh masyarakat Pakistan pada masa itu: “ kalian bebas...kalian bebas untuk pergi ke kuil-kuil, kalian bebas untuk pergi ke masjid, atau tempat peribadatan lainnya di Pakistan. Kalian diperkenankan untuk beragama, berkasta, atau berkeyakinan apapun. Bahwasanya itu tidaklah menjadi urusan Negara, …dll…dll…dll…Pakistan Zindabad!.”

Sumber Bacaan:

1. Rauf, Abdul. Islamic Culture in Pakistan. Ferozsons, Lahore, 1994.

2. Sattar, Abdul. Pakistan’s Foreign Policy 1547-2005. Kagzy, Karachi, 2007.

3. Sidhwa, Bapsi. Ice-Candi-Man. Penguin book, India, 1988.

Thursday, 10 July 2008

Khayalan

Prediksi para pemikir, antropolog dan sosiolog sekelas Comte, Freud, Weber, Durkheim, Marx, Darwin yang menyatakan bahwa agama akan ditinggalkan para pengikutnya ternyata tidak terbukti kebenarannya, justru diawal abad 20 geliat keagamaan semakin terasa dengan munculnya berbagai jurnal studi agama, berdirinya rumah ibadah dan makin kuatnya ketergantungan manusia pada simbol keagamaan. Hal ini semakin menggilas prediksi ‘dunia sekular’ sebagai cadangan tunggal yang diramalkan para pemikir Barat awal abad 19. Pandangan tersebut bermula dari berbagai macam penemuan ilmiah yang selalu mematahkan dokrin-doktrin agama (baca: kristen). Semakin mereka menemukan penemuan baru, semakin berkurang otentitas dogma gereja dan kitab sucinya. Maka terjadilah bentrok antar teolog dan saintis kala itu, yang tak lepas dari kekerasan fisik yang berdarah-darah. Galileo Galilei dan Bruno merupakan bukti ril dari kebiadaban tirani para ‘wakil tuhan’ masa itu. Hal inilah yang membangkitkan semangat anti gereja dikalangan masyarakat, khususnya para saintis. Anggapan bahwa agama dan Tuhan hanyalah khayalan semakin kuat menggema dalam berbagai ruang ilmiah. Inilah cikal bakal sebuah aliran yang kemudian menamakan diri mereka sebagai ateis.

Namun semangat anti-Tuhan dan agama para saintis-ateis seakan tenggelam dengan gairah keagamaan yang muncul. Nama-nama agamawan kembali muncul menggantikan tokoh idola sekular abad 19 dan awal 20. sebut saja nama Khomaeni, Desmond Tutu, Paus Yohanes Paulus, Bunda Theresa, Dalai Lama dan masih banyak kaum agamawan yang muncul menggeser ide-ide sekularistik ateis.

Kebangkitan agama sudah hampir lima dekade, dan para ateis juga sudah tenggelam dalam keputus asaan. Tapi diawali dengan runtuhnya WTC di AS oleh ‘wakil Tuhan’, bom di Spanyol, Bali, peledakan di Inggris, bom bunuh diri di Pakistan yang juga merupakan tanggung jawab yang di klaim oleh ‘orang-orang yang beriman’, polemik berkepanjangan umat kristiani di Irlandia seakan memberikan amunisi baru yang dahsyat buat para atheis untuk menghantam Tuhan dan agama. Seakan mereka berteriak “inilah ajaran agama! Inilah anjuran Tuhan! Menghancurkan setiap inchi garis kemanusiaan!” mereka bersorak gembira, sekularisme bangkit lagi! Atheisme belum mati! Bukan darwin yang mengancam eksistensi kemanusiaan dan peradaban, tapi agamalah yang merusaknya. Darwin tak pernah menyuruh untuk membunuh, agamalah yang dengan lantang meneriakkan aroma kematian dengan bumbu kekejaman. Agama bangkit bukan untuk perdamaian, tapi pertikaian dan kematian.

Inilah fenomena kontemporer, bahwa faham sekular-ateis semakin menemukan jalan mulusnya menuju singgasana globalisasi. Muculnya para ateis semisal Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens dan Daniel C. Dennett dalam berbagai acara talk show di berbagai media, menunjukkan geliat baru neo-darwinisme ini. Belum lagi buku-buku mereka menghiasi rak-rak best seller diberbagai toko buku di dunia, sebut saja The End of Faithnya Harris (2005) God Delusionnya Dawkins (2006) Breaking the Spell karya Dennet (2006) dan karya Hitchens The God is Not Great (2007) kesemuanya langsung ludes dipasaran. Banyak dari para pembacanya yang dengan yakin akhirnya menyatakan bahwa mereka adalah ateis pengikut dawkins dan kawan-kawan.

Dawkins dalam bukunya God Delusion, menolak keberadaan Tuhan. Ia berangkat dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukannya. Dawkins adalah seorang ahli biologi evolusioner dan pengikut setia Darwinisme. Baginya sangat jelas bahwa bukti-bukti ilmiah menunjukkan ketiadaan Tuhan. Yang dia maksud dengan “Tuhan” bukanlah Tuhan seperti yang digambarkan religious saintists semisal Einstein dan pengikut Deisme lainnya (Tuhan ada namun tidak melakukan apa-apa, Dia hanya mencipta lalu meningalkannya), tapi Tuhan personal yang disembah sebagian besar pengikut agama, khususnya Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bukunya tersebut ia juga memberikan 6 argumen kenapa kita harus yakin dengan ketiadaan Tuhan. (Dawkins, 2006, hal: 111-159)

Dawkins yang juga diamini pengikut setianya meneror agama dan Tuhan dengan bertubi-tubi. Mereka hendak mengusir Tuhan dan agama jauh dari lingkungan kemanusiaan dan peradaban. Agama selalu dengan seenaknya mendaku penemuan-penemuan ilmiah sebagai ilmu Ilahi yang sudah termaktub dalam kitab suci, tanpa mau mencari kebenarannya. Klaim atas validitas eternal kitab suci ini menambah geram kaum ateis. Ditambah dengan the worship of gaps (penyembahan celah; ejekan Dawkins terhadap kaum kreasionis yang selalu memasukkan unsur Tuhan dalam celah yang belum bisa di temukan oleh nalar ilmiah (Dawkins, 2006, hal: 125-134)) yang diusung oleh kaum agamawan. Hal tersebut bukan menguatkan argumen wujud Tuhan, justru nantinya akan semakin menguatkan argumen kaum ateis. Karena semakin celah-celah tersebut tertutup dengan penemuan ilmiah yang rasionil akan semakin sempit pula ruang lingkup tuhan didalamnya, bahkan akan hilang sama sekali.

Gambaran fenomena diatas merupakan pertarungan pemikiran kontemporer yang terjadi antara kaum ateis penolak Tuhan dan agamawan. Memang mayoritas agama dan dogma kitab suci yang mereka tentang adalah ajaran kristen dimana mereka berinteraksi langsung dengannya sejak kecil, sedangkan Islam dan agama Timur lainnya mereka pelajari dengan kacamata antropologis-sosioligis. Namun justru hal ini yang amat berbahaya. Karena dalam memahami Islam dengan metode demikian bisa membawa kesalah fahaman yang fatal. Hal ini akan semakin parah, karena arus globalisasi yang kuat merupakan sebuah keniscayaan yang kita akui bersama merupakan penyalur berbagai macam aliran pemikiran dan kebudayaan terhadap dunia global yang nantinya akan merasuk secara perlahan dalam pemikiran umat Islam tanpa sadar.

Argumen-argumen Dawkins dalam The God Delusion telah menohok ulu hati agamawan Barat maupun Timur. Sebagai umat Islam, kita harus menerima kenyataan bahwa banyak dari ulama kita yang hanya wait and see terhadap penelitian ilmiah dan kemudian mencari ayat al-Qur’an dan kemudian mencocokkan dengannya. Kemudian sibuk menulis buku dan artikel menunjukkan bukti ayat-ayat al Qur’an yang sesuai dengan penemuan tersebut.

Sungguh ironis apabila umat Islam dangan kesempurnaan ajarannya yang merupakan nilai final dari semua agama sebelumnya tidak melaksanakan ajarannya. Puluhan ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir, menelaah alam, makhluk dan lainnya hanya sekedar buah bibir bacaan umatnya tanpa ada bentuk implimentasi praktis. Kita tidak sadar bahwa penemuan ilmiah yang ada nilainya relatif, sebagai konsekwensinya apabila dikemudian hari ada penemuan yang mematahkan argumen awal dengan bukti ilmiah yang memadai, maka argumen awal akan gugur. Apabila kita hanya sekedar mencari titik temu antara penemuan ilmiah dengan ayat-ayat al-Qur’an, itu sama saja menghukumi relativisme al Qur’an. Sudah saatnya umat Islam sadar dan bangkit dari tidur panjangnya. Segala kesempurnaan ajaran agama harus digunakan dengan maksimal. Bukannya berhenti pada ayat-ayat teertentu dan kemudian menafsirkannya secara kaku dan rigid yang akhirnya melahirkan berbagai kekerasan dan kekejaman atas nama agama.

Disini saya kira pentingnya rekonstruksi ide Islamisasi Ilmu yang pernah digulirkan oleh Al Attas dan Faruqi. Sehingga pemahaman umat akan berbagai ilmu dan pengetahuan selalu berlandaskan framework Islam. Sehingga tidak mudah terombang ambing oleh samudara logika relativisme ilmiah. Dan kejayaan sains Islam bisa terwujud tanpa harus meyakini bahwa Tuhan hanya sekedar khayalan manusia yang pesimis dan fatalis.

Allah Knows Best

Albi 100708, 16:30

'Sembahyang'; Identitas Umat Beragama

Oleh: Alfina HM

Agama merupakan landasan setiap umat manusia, termaktub dalam kisah panjang bagaimana sebenarnya manusia itu membutuhkan sesuatu yang supreme-power untuk bersandar dan menyerahkan diri. Tak lepas dari itu, setiap agama pasti memiliki ritual dan ibadah yang berbeda dan bermacam-macam. Karena ritual merupakan bagian pokok dari suatu agama. Dengan kata lain ia disebut juga sebagai tata cara keagamaan. Secara garis besar dapat kita simpulkan bahwa orang yang beribadah atau melakukan ritual tertentu berarti ia adalah penganut agama tersebut, maka segala praktek keagamaan seperti 'sembahyang' adalah sebuah identitas bagi setiap umat beragama.

Agama Hindu memiliki keyakinan terhadap banyak Tuhan (dewa-dewa) yang harus mereka sembah, seperti Brahma, Wisnu, Siwa dll. Begitu juga dengan agama Budha yang mengabdikan dirinya dalam ritual-ritual agama seperti yoga untuk mencapai nirvana. Umat Yahudi melakukan sembahyang atau doa selama beberapa kali dalam sehari (sekharit, Mincha, ma'ariv), puasa dll sebagai ritual mereka. Tak ketinggalan dengan umat Kristen yang biasa melakukan ibadah mereka setiap hari minggu seperti Eucharist yang mereka percayai sebagai seremonial suci, serta masih banyak sakramen lainnya. Lalu bagaimana dengan ritual umat Islam yang terangkum dalam lima rukum Islam, misalnya salat? Kenapa seorang muslim harus salat dan apa untungnya meninggalkan salat? Bukankah masih banyak ibadah lainnya yang berpahala seperti bersedekah, membantu orang lain dll?

Salat merupakan suatu ibadah memuliakan Allah Swt yang menjadi tanda rasa syukur kaum muslimin sebagai seorang hamba dengan gerakan dan bacaan yang telah diatur khusus oleh Nabi Muhammad Saw dengan ketentuan Al-Quran dan Sunnah. Salat sendiri sudah ada dan telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, seperti perintah salat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya, Nabi Syu'aib, Nabi Musa, dan kepada Nabi Isa Alaihim Assalam. Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh kisah-kisah yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan Perjanjian Baru (Injil) yang menceritakan bagaimana Nabi-nabi terdahulu melakukan salat (beribadah kepada Allah Swt). Berikut isi Perjanjian Lama dalam kitab keluaran (Exodus) 34:8 "Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut dihadapan Tuhan yang menjadikan kita". Dalam Perjanjian Baru dikatakan dalam surat Markus 14:35 "Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya". Dengan demikian maka jelas bagi umat Islam bahwa salat sudah menjadi tradisi dan ajaran yang baku bagi semua Nabi dan Rasul Allah beserta para pengikutnya sepanjang jalan, Allah Swt telah berfirman: "Sebagai ketentuan Allah (sunnatullah) yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekalipun tidak akan menemukan perubahan bagi ketentuan Allah itu" (Q.S: Al-Fath: 23)

Dalam Islam salat merupakan salah satu rukun Islam, dimana agama akan kokoh berdiri diatasnya. Salat juga merupakan pengabdian (ketundukan) yang mencakup fisik, mental dan spiritual seorang muslim kepada Allah Swt yang diawali dengan mengucapkan Takbir (Allahu Akbar) meyakini bahwa Allah Swt Maha Besar dan diakhiri dengan salam. Begitu pentingnya salat bagi seorang muslim telah berulang kali Allah tegaskan dalam firman-Nya, bahwa hukum yang berlaku bukanlah 'semau' hamba-Nya, akan tetapi sudah ditetapkan dan tidak bisa ditawar lagi.

               Allah Swt memberikan keutamaan mengerjakan Salat dengan perintah untuk selalu menjaganya karena

semua amal saleh akan dibalas dengan surga kelak, dimana kita akan tinggal selamanya. Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusuk dalam sembahyangnya"

(Q.S: Al-Mukminun 1-2)

Wallahu a’alam




Monday, 30 June 2008

Hindu rituals and ceremonies in contemporary Bali and its impact on muslim society (a research proposal)

By: Alfina Hidayah HM

Preface
According to Concise Oxford English dictionary the term 'Hinduism' means a major religious and cultural tradition of the Indian subcontinent, including belief in reincarnation and the worship of a large pantheon of deities.[1] This religion develops and expands to a number of countries in the world, and Indonesia is one of them where Hinduism has existed and continues to survive with other religious communities.
The expansion of Hindu in Indonesia started when the native people of the archipelago went to India for trade; the Indians reciprocated in the beginning of first millennium. As more and more Indians started settling in the archipelago, their influence started increasing. Over the islands; so much so that many Hindu kingdoms were founded in Java and have affected the Indonesian society and its customs.[2]
After the advent of Islam in the 11th century, the religion and beliefs of a majority of the people became Islam which continues to this day. However, one notice that even with the gradual downfall of the Hindu kingdoms one can still find their strong and perhaps increasing influence in the environment and community in contemporary Indonesia. Most of them inhabit the Hindu island of Bali, where the entire population is Hindu with an approximate percentage of 93% of the settled citizens.
Hinduism in Bali Indonesia has many rituals which have influence the society particularly the Muslims’ society. Since their ancestors were adherent of Animism who believed in a supernatural power that organizes and animates the material universe. Subsequently the Hindus of Indonesia also adopted the animistic as well as their original beliefs and practices. Unfortunately, traditional Javanese Muslims also practice those rituals of Animism and Hindu. These kinds are a mixture of religion and indigenous cultures.

Introductory Statement
The project will undertake to answer the questions “what is the impact of Hindu rituals and practices upon the Muslim community of Bali. These questions are:
1. How do Hindu kingdoms develop and rule the ancient archipelago in the history of Indonesia? (development of ancient Hindu in Indonesia)
2. The classical Hindu in Indonesia is a mixture of Hindu and Buddha as a single religion, why?
3. When we look at the contemporary Indonesia, we will find that Hindu make an effort to revive as one religion and separate from Buddhism, this revival what they called by Parisada Hindu Dharma. What are their aims for that?
4. What are their rituals which still present until today?
5. Bali is known as gods island (Devata Island), is Hindu and its rituals the main reason that promote Bali into well-known and became rich tourism island today?
6. Why is a Balinese Hindu more concerned with the rituals and art than beliefs, laws etc?
7. What is the impact of Hindu rituals on the society especially upon the Muslims?
8. Why the Muslims adopt and adapt the Hindu rituals? What are their purposes?
9. What is our position and statement as Muslims concerning this issue?

Methodology of Research
This project will try to answer the above questions through a historical study and a brief introduction of Hinduism in Indonesia all over its various periods. Secondly will mention some of their main rituals and ceremonies practices in detail to understand which are related to and adopted by Muslims. Finally I will come up to the contemporary issues between Hindu and Islam which relate to this topic followed by approaching to the conclusion that being a Muslim what we are going to do then.

Outline

I divided my topic as below:
ü A brief introduction to the historical background of Hinduism in Indonesian Archipelago
ü Chapter one: The rituals and ceremonies
ü Chapter two: Its impact on Muslim society
ü Conclusion
ü References

Some references arranged for project

Concise Oxford English Dictionary (Eleventh edition)
Hinduism in Indonesia-wikipedia, the free Encyclopaedia

Radhakrishnan, S. The Hindu Dharma. (International Journal of Ethics, Vol. 33, No. 1, (Oct., 1922), pp. 1-22). The University of Chicago Press

Schiller, Anne. An "Old" Religion in "New Order" Indonesia: Notes on Ethnicity and Religious Affiliation. (Sociology of Religion, Vol. 57, No. 4, (Winter, 1996), pp. 409-417). Association for the Sociology of Religion, Inc.

Shihab, Alwi. Membendung Arus, Respons gerakan Muhammadiyah terhadap penetrasi misi Kristen di Indonesia. (The Muhammadiyah movement and its controversy with Christian mission in Indonesia). Mizan, Bandung Indonesia, 1998

Shihab, Alwi. Islam Sufistik. Mizan, Bandung-Indonesia, 2001.

Van der Kroef, Justus M. The Hinduization of Indonesia Reconsidered (The Far Eastern Quarterly), Vol. 11, No. 1, (Nov., 1951), pp. 17-30. Association for Asian Studies.

[1] Concise Oxford English Dictionary (Eleventh edition).
[2] Shihab, Alwi. Membendung Arus, Respons gerakan Muhammadiyah terhadap penetrasi misi Kristen di Indonesia. (The Muhammadiyah movement and its controversy with Christian mission in Indonesia). Mizan, Bandung Indonesia, 1998. P.1.

Sunday, 29 June 2008

Can romance novel be a type of Islamic literature?

Question
Can romance novel be a type of Islamic literature?

A. Introduction
In the Eickelman and Anderson, 1999, in the Muslim World, Maimuna Huq wrote that how romance novel can be a suggestion and a message that implied moral and ethic. She begin her writing with the reaction of Bangladeshi toward the controversial novel lajja written by Bangladeshi feminist-secularist writer Tasleema Nasreen, it seemed to demonstrate the growing strength of Islamic “fundamentalism” in Bangladesh. Further, she explain that some enjoy reading her works and some “fundamentalists” write novel themselves-romantic ones with hard cover as “secularly” and provocatively illustrated as Nasreen’s, a style and language as contemporary as hers, and plots equally laden with the suffering of women in an unjust society, paradoxically, the producers and readers of these novels consider them “Islamic” works, so do not deem them objectionable. It shows us how the “symbolic Islam” and all product that come from “fundamentalists” has already so-called taken for granted. It is similar to Charles Lindholm research about Muslim daily life, he said that before the coming of anthropology to understand Islam and Muslim daily life, the rural tribal Muslim only bothered about using the Sheikh to resolve their conflict and took the authority of religion for granted. She added that most scholars of Bangladesh attribute the recent and unexpected growth in Islamic activism to “internal” effort to the state and “external” efforts of Middle Eastern countries. It shows us how it related to Olivier Roy description about the interventions of “islamist” or “neo-fundamentalist” in spreading secularization within Islam (Roy 2002: 25-57)
Huq’s article on new media in the Muslim world (here, she take Bangladesh as her object) identifies that romance novel as a form of media products that are consumed by the Bengali middle classes. She identifies how “islamist” writers and publisher have in the past written about piety and ritual related themes while increasingly more and more of this literature is changing its form. She shows how a lot of the new publications are written in the genre of romance novels with implied on moral messages.

B. Mas’ala Texts, Biographies, Booklets and Novels
Mas’ala texts provide detailed and specific information on how to benefit from Qur’anic verses in various aspects of life-health, intellectual ability, socio-economic well being, family affairs, and the attainment of greater virtue or sawab for success in the Life After Death. Most of Islamic literature produced between 1971-1975 focused on mas’ala. The books enjoy wide popularity, although both Islamic and secular activists tend to look down on them.
Mas’ala text play a significant role in shaping public consciousness of Islam by encouraging a ritual-based piety in readers. The content of the books spreads quickly by words of mouth, especially in the densely packed middle class and lower middle class neighborhoods, foregrounding Islam and the Qur’an in daily practice, even if the text do not encourage explanations. More like handbooks than discursive formations, Mas’ala texts appeal to a majority of the madrassa-educated.
Lacking in secular modalities for meaningful renderings of sacred phenomena, mas’ala texts fail to engage a majority of the modern-educated, who are reluctant to perceive a text as authoritative and interesting simply because it’s full of Qur’anic verses and a text as authoritative and interesting simply because it’s full of Qur’anic verses and hadith. While the newer mas’ala texts respond to shifting criteria for persuasiveness more effectively than older ones, they do not compete well with more recent booklets and novel in attracting reader in society with rising levels of modern/secular higher education, especially readers from influential circle.
Like mas’ala texts, biographies are an old literary form, one that constituted a very popular category of Muslim Bengali literature during the nineteenth and early twentieth centuries. They are one of the few types of Islamic literature available in general bookstores, probably because of their apolitical nature, easy-read style, and suitability for both adult and children. The texts are primarily stored at stores affiliated with Islamists groups and located around group headquarters or mosques that tend to be Islamists strongholds, such us Kantaban Mosque in Dhaka.
One example of the new biographies is Sirate Ibnu Hisham, translated from Arabic into Bangla by Akram Farooq and first published in 1988, this biography of the prophet Muhammad is much longer and of a more “authoritative” or “serious” appearance than most popular biographies. Another biography is Rasulullah Biplabi Jiban (The Revolutionary Life of the Messenger of Allah).
Booklet started to appear in noticeable numbers in 1970s. As far as the basic nature of their contents is concerned, of course they can be traced to “social” and “political” works of 19th and early 20th century punthi literature. current booklets are cheap and readable because they adhere closely to colloquial Bangla and treat specific issue. The production of most mas’ala and traditional biographical texts is not directly connected to Islamic activism, but most authors, publishers, and readers of booklets are affiliated with various Islamic groups.
While some Islamists do not accept novel as “Islamic” literature, according to Huq, some Islamic publishers see novels becoming the most popular form of Islamic writing in the near future. Most importantly, added Huq, perhaps these novels bridge the gap between the type of romantic novels written by Nasreen, who advocate transcendence of all social mores and attack religious values, and normative Islamic literature, which is preoccupied with reaffirming Islamic principles, purifying society, and decrying the moral depravity of various Bengali cultural practices.
Among more contemporary Islamic novels are series of paperback thriller such as Thypoon and Saimoom, which closely resemble secular series like Masud Rana and Western in both writing and appearance style. Most important, stressed Huq, romantic fiction, as a popular performative genre and emblem, is a powerful pathway to the heart of the national imagination. Speaking in general term, Huq added, madrassa students tend to read romantic novels by Islam-orientd writers; Bengale-medium students read novels by secularly oriented writers.
Reading between the lines in such novels where Islam barely perceptible, one could perhaps see in them certain implicit Islamic messages, such as the ill of extra-marital sexual relations and of free mixing, and the need to uproot prostitution. However, such views are also fully consonant with popular Bengali cultural ideology. Instead of relying on Islam for legitimizing a particular social value, as early generations of Islamists in the region tended to do, contemporary Islamic novelist draw on the authority of popular notions of “cultural decency”.(Huq, 1999:134-151)

C. Conclusion
It remains difficult to define “Islamic” literature, especially since there is little consensus among readers: Islamic is a volatile signifier. But looking on several kinds of Islamic literature tell us several things.
First, mas’ala texts, biographies and booklets exemplify an “objectification” of the Muslim consciousness-codification, principles, citation from the Qur’an and hadith, and recognizable forms of authority.
Second, novel depict a different type of objectification: Islam is objectified not through apparent systematicity, coherence, organization, and the positing of clear-cut difference but through the openness of cultural symbols and shared local notions, the presence of Islamic element like premarital romance, the voicelessness of religious authority, and the absence of particularity.
Third, variety in Islamic literature, even within a specific category such as the novel, reflects a pluralistic view of Islam.
Forth, types of literature such as thrillers and romantic novels indicate attempts to talk about religion in ways that undercut either “secularist” or “fundamentalist” approach to Islam.
Fifth, closeness in form between secular and Islamic writing styles, as is evident in the novel, reflects complex interactions between formal, secular, higher education and informal religious training, especially in the case of writers affiliated with the politic Islam.
Sixth, while the recent varieties of Islamic literature do not have massive audiences, they are often aimed at and read by those from the prestigious circle of upwardly mobile professionals, the powerful communities of high school, college and university students, and the influential associations of small and big businessman. (Huq, 1999:152-155)
Last, Maimuna Huq thesis is related –implicitly- to sociological theory of Lindholm and Roy as we mention above, and according to Huq, romance novels can be assumed as a type of Islamic literature. Because, a lot of the new publications are written in the genre of romance novels with implied on moral messages and of course religious doctrine of daily life.

Is secularization a sociological process initiated by the Muslim encounter with and migration to the West?



Question

Is secularization a sociological process initiated by the Muslim encounter with and migration to the West?

Answer

A. Introduction

More than twenty years after the success of the Islamic revolution in Iran, the wave of Islamic radicalism that has engulfed the Middle East since the late 1970s is taking a different course. The mainstream Islamist movements have shifted from the struggle for a supranational Muslim community into a kind of Islamo-nationalism: they want to be fully recognized as legitimate actors on the domestic political scene, and have largely given up the supranational agenda that was part of their ideology, said Roy[1] On the other hand, the policy of conservative re-Islamization implemented by many states, even secular ones, in order to undercut the Islamist opposition and to regain some religious legitimacy has backfired. It has produced a new brand of Islamic fundamentalism, ideologically conservative but at times politically radical. This neo-fundamentalism is largely de-linked from states’ policy and strategy. At first glance it is less politically minded than the Islamist movements—less concerned with defining what a true Islamic State should be than with the implementation of shariat (Islamic law). Though the movement is basically a socio-cultural phenomenon, it has also produced an extremist expression which is embodied in loose peripheral networks, such as the organization Al Qaida, headed by Osama bin Laden, responsible for the destruction of the World Trade Center on 11 September 2001. Consequently, international Islamic terrorism has shifted from state-sponsored actions or actions against domestic targets toward a de-territorialized, supranational and largely uprooted activism. Nevertheless the strategic impact of these new movements is limited by the very fact that they have such scarce roots in the states’ domestic politics. However, this is not the case in Pakistan and Afghanistan, which are now the hotbed of contemporary Islamic fundamentalism.

According to Roy[2] the relationship of Muslims to Islam is reshaped by globalization, westernization and the impact of living as minority. The issue is not theological contents of Islamic religion, but the way believers refer to this corpus to adapt and explain their behaviors in a context where religion has lost its social authority. Roy didn’t consider it to be a different Islam. The corpus, the basic tenets and rituals, the pillars of the faith are absolutely consistent with the learned tradition of theological and legal knowledge. Moreover, certain forms of globalization of Islam are explicitly fundamentalists by stressing the need to return to a ‘pure’ Islam, that of the salaf, the pious ancestors. Global Muslims, said Roy, either Muslim who settled permanently in non Muslim countries (mainly in the West), or Muslims who try to distance themselves from a given Muslim culture and so stress their belonging to a universal ummah, whether in purely quietist way or through political action.[3]

B. Neo-Fundamentalism and Secularization

“Islamism” is the brand of modern political Islamic fundamentalism which claims to recreate a true Islamic society, not simply by imposing the shariat, but by establishing first an Islamic state through political action. Islamists see Islam not as a mere religion, but as a political ideology which should be integrated into all aspects of society (politics, law, economy, social justice, foreign policy, etc.). The traditional idea of Islam as an all-encompassing religion is extended to the complexity of a modern society. In fact they acknowledge the modernity of the society in terms of education, technology, changes in family structure, and so forth. The movement’s founding fathers are Hassan Al Banna (1906–1949), Abul Ala Maududi, and, among the Shi’as, Baqer al Sadr, Ali Shariati and Ruhollah Khomeyni. They had a great impact among educated youth with a secular background, including women. They had less success among traditional ulamas. To Islamists, the Islamic State should unite the ummah as much as possible, not being restricted to a specific nation. Such a state attempts to recreate the golden age of the first decades of Islam and supersede tribal, ethnic and national divides, whose resilience is attributed to the believers’ abandonment of the true tenets of Islam or to colonial policy. These movements according to Roy[4] are not necessarily violent, even if, by definition, they are not democratic: the Pakistani Jama’at Islami and the Turkish Refah Party (now fazilet) as well as most of the Muslim Brothers groups have remained inside a legal framework, except where they were prevented from taking political action, as was the case in Syria, for instance.

In fact, this new brand of supranational neo-fundamentalism is more a product of contemporary globalization than of the Islamic past. Using two international languages (English and Arabic), traveling easily by air, studying, training and working in many different countries, communicating through the Internet and cellular phones, they think of themselves as “Muslims” and not as citizens of a specific country. They are often uprooted, more or less voluntarily (many are Palestinian refugees from 1948, and not from Gaza or the West Bank; bin Laden was stripped of his Saudi citizenship; many others belong to migrant families who move from one country to the next to find jobs or education). It is probably a paradox of globalization to gear together modern supranational networks and traditional, even archaic, infra-state forms of relationships (tribalism, for instance, or religious schools’ networks). Even the very sectarian form of their religious beliefs and attitudes make the neo-fundamentalists look like other sects spreading all over the planet.

C. Conclusion

“Islamism” is the brand of modern political Islamic fundamentalism which claims to recreate a true Islamic society, not simply by imposing the shariat, but by establishing first an Islamic state through political action.

The state the Islamist parties are challenging is not an abstract state, but rather one that is more or less rooted in history and is part of a strategic landscape. The Islamist parties themselves are the product of a given political culture and society. Despite their claim of being supranational, most of the Islamist movements have been shaped by national particularities.

This “nationalization” of Islamism is apparent in most countries of the Middle East.

However, the mainstream Islamist movements, while consolidating a stable constituency inside their own country, are losing their appeal beyond their borders.

Three elements characterize these groups (well embodied by the Taliban/Osama bin Laden coalition).

First, they combine political and militant jihad against the West with a very conservative definition of Islam, closer to the tenets of Saudi Wahhabism than to the official ideology of the Islamic Republic of Iran.

The second point is that these movements are supra-national. A quick look at the bulk of bin Laden’s militants killed or arrested between 1993 and 2001 show that they are mainly uprooted, western educated, having broken with their family as well as country of origin.

Third, while Islamists do adapt to the nation-state, neo-fundamentalists embody the crisis of the nation-state, squeezed between infra-state solidarities and globalization. The state level is bypassed and ignored.

[2] Roy, Olivier, 2004, Globalised Islam the Search for New Ummah, p ix-x

[3] In this field Roy has successfully describe globalization within Muslims and Islam; unfortunately, he is too west-minded in his opinions, like other orientalists before him.

[4] Roy, Olivier, 2004, p 1-2, 22-23