Sejarah mencatat bahwasanya orientalis Barat (tidak semua, karena ada pula dari mereka yang objektif dalam penelitiannya) berusaha dengan giat untuk selalu mencari titik kelemahan Islam, dari keotentikan al qur’an kemudian kritik atas hadis, dan lainnya. Melihat kebuntuan dalam mengaburkan otentitas kitab suci mereka mengalih pada penelitian yang ingin menyimpulkan bahwasanya Islam adalah agama yang irrasional, tidak masuk akal dan penuh khurafat.
Namun bagaimanapun gigihnya Barat untuk membuktikan bahwa ajaran Islam tidak relevan dengan akal akan berujung dengan tangan hampa pula, alih2 menyatakan ke”statis”an Islam, mereka malah terperanjat kaget betapa rasionalnya ajaran Islam, ini terbukti dari studi dan kajian mereka tentang ilmu kalam dan filsafat Islam. Kalam oleh para ahli Barat disebut teologi rasional atau teologi dialektis, tidak seperti teologi Kristen yang dogmatis. Ilmu kalam sangat dialektis dan logis. Dengan mempelajari ilmu kalam yang mengakibatkan berbagai polemik, akan melatih umat Islam untuk melihat kembali agamanya. Agama Islam sudah berada ditangan umatnya selama 15 abad. Kita tidak boleh melihat perjalanan panjang itu dengan hampa tanpa makna. Sudah barang tentu banyak hal –negatif maupun positif-yang terjadi dalam kurun waktu sepanjang itu. Orang yang tidak mempelajari turast (warisan lama) dan tiba2 mengklaim kembali kepada qur’an dan Hadits, bisa terjerembab kedalam tafsiran yang paling awal terhadap qur’an dan sunnah.
Dengan ilmu kalam kita bisa mempelajari banyak hal. Contoh mudahnya adalah sifat yang 20. sifat yang 20 ini tidak semerta merta datang begitu saja. Ia mempunyai latar belakang yang rumit sekali. Banyak lagi contoh yang lain, kata aqidah yang berarti simpul atau ikatan tidak termuat dalam term al qur’an, namun sekarang seolah2 ia seperti suci, sakral. Contoh kongkrit lainnya adalah kalimat ushuluddin. Secara logika kalau ada ushuluddin berarti ada juga furu’uddin, dan tiba2 kita sudah diwarisi stereotip bahwa ushuluddin adalah ilmu kalam sedangkan furu’uddin adalah fiqh. Artinya sangat menjadi artificial(dibuat-buat). Tapi apa benar begitu? Dulu Ibn Taimiyyah dan beberapa ulama lainnya tidak setuju dengan pembagian ushul-furu’ tadi. Jadi dengan mempelajari kalam dan sebagainya orang akan menjadi terbuka dan tidak dogmatis. Memang diakui sebagai konsekwensinya terjadi apa yang disebut dengan relatifisasi doktrin (ajaran), yakni ketika orang mengetahui bahwa suatu doktrin adalah dari hasil proses sejarah. Dan inilah yang dikhawatirkan banyak ulama Islam termasuk di Indonesia.
Menurut saya, sebenarnya kekhawatiran tersebut berlebihan. Sebab dalam ajaran2 Islam ada bagian2 yang absolut, tetap dan tak boleh berubah, misalnya bahwa Allah itu Esa dan kita wajib berbuat baik, bahwa kita berbuat untuk mencapai ridhaNYa, dan sebagainya. Jadi kita tidak perlu khawatir akan muncul relatifisasi doktrin sbagaimana yang dikwatirkan sebagian besar ulama. Karena hal yang tersebut diatas haruslah berpegang teguh kepada ajaran dasar Islam yakni qur’an dan sunnah dan bahwa tidak semuanya bisa ditafsirkan secara metaforis, namun ada juga hal2 absolut yang tidak berubah, tapi disini kita diuntut untuk jeli dalam membedakan antara keduanya. Wallahu a’lamu bisshowab. Albi
H I/141 060607, 08:00 PM
Tuesday, 31 July 2007
Islam, Fundamentalisme dan Dongeng pengantar tidur
Melihat berbagai fenomena yang ada saat ini, entah dinegara kita maupun dipakistan (dan juga Negara muslim majority lainnya) tiba2 saya teringat dengan dongeng “lullaby” sebelum tidur ibu tercinta saya….
Singkat ceritanya begini….
Ada seorang pemuda yang tampan, mempunyai teman hewan peliharaan beruang yang sejak kecil sudah dilatihnya dan amat setia. Pada suatu hari, sang pemuda ketiduran dibawah pohon rindang. Ia diganggu oleh seekor lalat, sehingga terganggu tidurnya, sang beruang berusaha mengusir lalat tersebut, namun dasar lalat, diusir sekali datang lagi dan begitu seterusnya.
Melihat hal ini si beruang yang taat dan setia itu, merasa jengkel karena tuannya diganggu tidurnya. Saking jengkelnya diambilnya batu besar disampingnya dan dengan sekuat tenaga dilemparkannya kearah sang lalat. Lalat itu mati, tapi pemuda itu juga mati, karena lalat yang dilempar tadi tepat berada dikening si pemuda.
Saya baru sadar sekarang, betapa dalam nilai yang bisa diambil dari dongeng pengantar tidur tadi…
Kita semua mencintai Islam sebagai agama kita. Kitalah beruang dalam dongeng tadi. Dan Islam adalah pemuda tampan itu. Lalat adalah gangguan2 yang muncul dari umat Islam terhadap Islam, entah itu ‘fundamentalisme’, cara berpikir beku (malas pakai otak lebih suka berperilaku), golongan sekuler-liberal atau ‘penyakit’ seperti yang dibilang Muladi. Kita menghindarkan segala bahaya tadi dari Islam agar tetap subur dan menjadi pegangan kita. Caranya dengan menghalau lalat tadi dengan sapu lidi, obat atau kipas dan lain sebagainya. Dengan kata lain kita menjaga Islam dari segala gangguan tadi dengan mendidik diri kita supaya tidak hanya belajar fikh saja atau hadits saja atau tafsir saja, akan tetapi -umpamanya saja- melihat fiqh abad 10-15M dengan konteks sosial sekarang, cara kita bukanlah seperti yang dilakukan beruang tadi, karena dengan tindakan sembrono meskipun dengan niat yang baik (niat saja gak cukup!) maka matilah si pemuda tadi.
Dengan munculnya berbagai macam ‘penyakit’ dalam ‘tubuh’ kita, kita harus berfikir jernih dengan niat yang tulus mencari ‘obatnya’ sehingga cerita siberuang diatas tidak perlu terulang kembali…….
Singkat ceritanya begini….
Ada seorang pemuda yang tampan, mempunyai teman hewan peliharaan beruang yang sejak kecil sudah dilatihnya dan amat setia. Pada suatu hari, sang pemuda ketiduran dibawah pohon rindang. Ia diganggu oleh seekor lalat, sehingga terganggu tidurnya, sang beruang berusaha mengusir lalat tersebut, namun dasar lalat, diusir sekali datang lagi dan begitu seterusnya.
Melihat hal ini si beruang yang taat dan setia itu, merasa jengkel karena tuannya diganggu tidurnya. Saking jengkelnya diambilnya batu besar disampingnya dan dengan sekuat tenaga dilemparkannya kearah sang lalat. Lalat itu mati, tapi pemuda itu juga mati, karena lalat yang dilempar tadi tepat berada dikening si pemuda.
Saya baru sadar sekarang, betapa dalam nilai yang bisa diambil dari dongeng pengantar tidur tadi…
Kita semua mencintai Islam sebagai agama kita. Kitalah beruang dalam dongeng tadi. Dan Islam adalah pemuda tampan itu. Lalat adalah gangguan2 yang muncul dari umat Islam terhadap Islam, entah itu ‘fundamentalisme’, cara berpikir beku (malas pakai otak lebih suka berperilaku), golongan sekuler-liberal atau ‘penyakit’ seperti yang dibilang Muladi. Kita menghindarkan segala bahaya tadi dari Islam agar tetap subur dan menjadi pegangan kita. Caranya dengan menghalau lalat tadi dengan sapu lidi, obat atau kipas dan lain sebagainya. Dengan kata lain kita menjaga Islam dari segala gangguan tadi dengan mendidik diri kita supaya tidak hanya belajar fikh saja atau hadits saja atau tafsir saja, akan tetapi -umpamanya saja- melihat fiqh abad 10-15M dengan konteks sosial sekarang, cara kita bukanlah seperti yang dilakukan beruang tadi, karena dengan tindakan sembrono meskipun dengan niat yang baik (niat saja gak cukup!) maka matilah si pemuda tadi.
Dengan munculnya berbagai macam ‘penyakit’ dalam ‘tubuh’ kita, kita harus berfikir jernih dengan niat yang tulus mencari ‘obatnya’ sehingga cerita siberuang diatas tidak perlu terulang kembali…….
Politik (kekuasaan) Solusi Umat?
banyak kaum umat Islam yang berfikir bahwa jika aspek politik bisa direbut oleh gerakan Islam tertentu, maka akan selesailah masalah umat. pendapat ini -menurut saya- bisa dibilang sebagian benar tapi kurang sempurna. memang kekuasaan politik adalah bagian penting dari permasalahan umat. karena daulah adalah pendukung perkembangan agama. ini tidak hanya dibuktikan oleh islam, namun juga agama2 lain. sebagai contoh mari kita lhat agama kristen yang berkembang dengan demikian pesatnya di Eropa tak bisa dipungkiri merupakan jasa besar Konstantin yang mengeluarkan dekrit 'edict of milan' dan Theodosius yang kemudian menjadikan kristen sebagai agama resmi negra Romawi. demikian pula halnya dengan agama Budha yang tidak terlepas dari campur tangan Ashoka. demikian pula dalam agama2 lain, sulit untuk memisahnya dengan politik baca:kekuasaan) sama halnya dengn ideologi2 juga tak lepas dari campur tangan penguasa (marxisme, kapitalisme, sosialisme dsb). eksistensi dan poerkembanganya sangat ditopang oleh kekuasaan. komunime kehilanagan pamor setelah sovyet runtuh. kapitalisme juga 'kayaknya' akan sulit menegukan wksistensinya jikalau suatu saat amerika ambruk mengikuti jeak sovyet.
tapi, perlu kita catat disini, bahwa kekuasaan bukanlah segala2nya. ssejarah mencatat banyak pemikiran, keyakinan, attitude dari masyarakat yang tidak sejalan dengan penguasa. peran ulama disamping umara (kekuasaan) juga memegang peranan yang tak kalah pentingnya, keduanya harus diselaras-harmonikan. para aktivis politik harus mempunyai pemahaman yan benar tentang Islam. jika tidak mereka nantinya akan menjadi perusak Islam yang signifikan. jadi -menurut saya- tidaklah benar apabila dlam perjuangan Islam kita mengabaikan slah satu aspek kehidupan. kesemuanya harus pada posisi masing2 secara proporsional. itulah namanya adil.....
contoh riil adalah teladan baginda rasul SAW memulai dakwah dengan aspek ilmu, memberkan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentan konsep2 dsr dalam Islam. afkar (pondasi pemikiran) mafahim (pemahaman) maqayis (standar2 nilai) dan 'ketundukan' yang Islam ditanamkan secara kokoh kepada para shabat waktu itu. akhirnya mereka bisa tampil sebagai sosok ulama-cendekiawan yang handal dalam berbagai bidang kehidupan. bisa dibuka lembaran sejarah bagaimana hebatnya argumentasi ja'far bin abi thalib ketika berdebat dengan \raja najazyi dan kafir quraisy di mekah. ja'far yang terjepit terdesak oleh serangan kafir minta perlindungan raja najasyi yang kristen, beliau mampu menguraikan argumen yang canggih seputar maslah kristen dan Isa yang menjadi titik sentral kontroversi dalam Islam dan Kristen.
jadi kesimpulan yang bisa saya ambil, dalam menghadapi problematika saat ini kita harus bijak, dan bisa mensinergikan berbagai aspek keilmuan kejiwaan kebendaan dan lainnya. jadi kekuasaan bukanlah satu2nya sarana (tapi bukan berarti harus menafikan secara mutlak atau mengurangi esensinya yang signifikan) harus ada sinergi antara 'ulama-umara' sehingga kaum muslim bisa kembali mengukir kejayaannya......wallahu a'lam.
tapi, perlu kita catat disini, bahwa kekuasaan bukanlah segala2nya. ssejarah mencatat banyak pemikiran, keyakinan, attitude dari masyarakat yang tidak sejalan dengan penguasa. peran ulama disamping umara (kekuasaan) juga memegang peranan yang tak kalah pentingnya, keduanya harus diselaras-harmonikan. para aktivis politik harus mempunyai pemahaman yan benar tentang Islam. jika tidak mereka nantinya akan menjadi perusak Islam yang signifikan. jadi -menurut saya- tidaklah benar apabila dlam perjuangan Islam kita mengabaikan slah satu aspek kehidupan. kesemuanya harus pada posisi masing2 secara proporsional. itulah namanya adil.....
contoh riil adalah teladan baginda rasul SAW memulai dakwah dengan aspek ilmu, memberkan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentan konsep2 dsr dalam Islam. afkar (pondasi pemikiran) mafahim (pemahaman) maqayis (standar2 nilai) dan 'ketundukan' yang Islam ditanamkan secara kokoh kepada para shabat waktu itu. akhirnya mereka bisa tampil sebagai sosok ulama-cendekiawan yang handal dalam berbagai bidang kehidupan. bisa dibuka lembaran sejarah bagaimana hebatnya argumentasi ja'far bin abi thalib ketika berdebat dengan \raja najazyi dan kafir quraisy di mekah. ja'far yang terjepit terdesak oleh serangan kafir minta perlindungan raja najasyi yang kristen, beliau mampu menguraikan argumen yang canggih seputar maslah kristen dan Isa yang menjadi titik sentral kontroversi dalam Islam dan Kristen.
jadi kesimpulan yang bisa saya ambil, dalam menghadapi problematika saat ini kita harus bijak, dan bisa mensinergikan berbagai aspek keilmuan kejiwaan kebendaan dan lainnya. jadi kekuasaan bukanlah satu2nya sarana (tapi bukan berarti harus menafikan secara mutlak atau mengurangi esensinya yang signifikan) harus ada sinergi antara 'ulama-umara' sehingga kaum muslim bisa kembali mengukir kejayaannya......wallahu a'lam.
Islam; Historical Religion?
dalam mata kuliah 'comparative religion' kita bisa melihat begitu banyak tekanan2 dan beban psikologis dalam umat kristiani (inkuisisi, penolakan sains dan konflik sektarian).melihat hal ini, tindakan yang diambil oleh para pemuka kristen dengan meski 'terpaksa' merevisi ulang konsep teologis mereka agar sesuai dengan perkembangan zaman. akhirnya mereka merubah pandangan 'eksklusif' mereka menuju pandangan yang terbuka 'inklusif' namun (menurut sebagain besar mereka) itu saja belum cukup, mereka kemudian melebarkan sayap teologi inklusifnya menuju teologi yang bercorak 'pluralis'. hal ini mendapat reaksi keras dari pihak kereja yang kemudian pada tahun 2001 mengeluarkan dekrit 'dominus jesus' yang secara tegas menentang pluralisme agama.
maka amat wajar kalau kiranya Huston Smith (the worlds religion,1991) menyimpulkan bahwa 'christianity is basically a historical religion.........' (tolong islahnya pak Eko ya kalo salah...). kristen merupakan agama sejarah, maka dari itu perubahan 'evolusi teologi' masih terbuka. karena konsep teologisnya terbentuk melalui proses sejarah yang akhirnya melahirkan 'kristens' (kristen yang banyak) yang mengakibatkan relatifnya 'truth claim'. kebenaran menjadi relatif sesuai pendapat masing2 yang dalam istilah filsafatnya sufhisthaiyyah 'indiyyah hal yang demikian ternyata juga terjadi dalm agama hindu budha dan agama kulturan dan agama sejarah (historical religion) lainnya.
contoh perubahan ekslusif-inklusif-pluralis bisa kita tengok dari pertarungan martin luther-paus. yang mengakibatkan pengucilan dan ancaman hukuman mati pada luther. luther akhirnya melarikan diri dan kemudian mendirikan kristen protestan. hal tersebut disusul dngan konflik berkepanjangan -sampai hari ini- dan merupakan catatan kelam dalam sejarah umat kristiani. disamping hal2 yang sudah dipaparkan diatas, problematika teks bibel juga menambah kerincuan polemik sektarian dalam kristen. yang pd ujungnya menjadikan agama (kristen) harus mengubah diri dan beradaptasi dengan sejarah, yang sesuai dengan tuntutan sekularisme dan liberalisme peradaban Barat.
demikian polemik teologis kristen yang rumit, yang kita sayngkan sekarang, mengapa para 'ilmuan' muslim (termasuk Indonesia) latah ikut2an umat kristiani? (dengan menerapkan paham islams (banyak islam) ) harusnya kita melihat secara adil jangan asal 'membeo'. kita harus meletakkan keduanya secara adil dan proporsional. kajian yang kritis dan mendalam tentang sejarah, konsep dan fenomena modern terhadap kekristenan dan agama2 lain sangatlah diperlukan supaya tidak dengan mdah menggeneralisir masalah. karena pengabaian kajian2 kritis diatas akan menyimpulkan bahwa semua agama adalah sama,( ini bisa kita lihat dari pemikiran Huston smith, john hick, WC Smith, dan juga beberapa ulama muslim semisal husein nasr dan frichof schuon)
merujuk kepada pendapat mas ni'am mengenai teori objektifitas (metode yang bags akan menghasilkan objektifitas). kita harus melihat bahwa banyak dari teori2 dan metodologi yang lahir dari latar belakang yang khas sejarah Barat-Kristen tidak begitu saja dengan mudahnya diaplikasikan untuk studi terhadap Islam. disini dituntut kejelian peneliti dalam memilh dan memilah metodologi untuk penelitiannya. sebab apa? islam tidak mengalami problem teologis-historis sebagaimana yang dialamai kristen.
dengan demikian kita bisa menghidar tradisi latah dan 'membeo' kepada istilah asing (pengadopsian sah2 saja asal melalu proses islamisasi' dan penyaringan yang adil dan jangan sampai sang tamu (Barat) kemudian mengganti posisi tuan rumah(Islam) ) tanpa melakukan kajian ktiris-historis sebelumnya.
Islam bukanlah historical religion, al quran juga bukan merupakan 'karangan' rasulullah SAW, tapi Islam adalah agama wahyu dan alqur'an adalah wahyu dan bukan karangan manusia.
allahumma arina al haqqa haqqan war zuqna ittiba'ah
maka amat wajar kalau kiranya Huston Smith (the worlds religion,1991) menyimpulkan bahwa 'christianity is basically a historical religion.........' (tolong islahnya pak Eko ya kalo salah...). kristen merupakan agama sejarah, maka dari itu perubahan 'evolusi teologi' masih terbuka. karena konsep teologisnya terbentuk melalui proses sejarah yang akhirnya melahirkan 'kristens' (kristen yang banyak) yang mengakibatkan relatifnya 'truth claim'. kebenaran menjadi relatif sesuai pendapat masing2 yang dalam istilah filsafatnya sufhisthaiyyah 'indiyyah hal yang demikian ternyata juga terjadi dalm agama hindu budha dan agama kulturan dan agama sejarah (historical religion) lainnya.
contoh perubahan ekslusif-inklusif-pluralis bisa kita tengok dari pertarungan martin luther-paus. yang mengakibatkan pengucilan dan ancaman hukuman mati pada luther. luther akhirnya melarikan diri dan kemudian mendirikan kristen protestan. hal tersebut disusul dngan konflik berkepanjangan -sampai hari ini- dan merupakan catatan kelam dalam sejarah umat kristiani. disamping hal2 yang sudah dipaparkan diatas, problematika teks bibel juga menambah kerincuan polemik sektarian dalam kristen. yang pd ujungnya menjadikan agama (kristen) harus mengubah diri dan beradaptasi dengan sejarah, yang sesuai dengan tuntutan sekularisme dan liberalisme peradaban Barat.
demikian polemik teologis kristen yang rumit, yang kita sayngkan sekarang, mengapa para 'ilmuan' muslim (termasuk Indonesia) latah ikut2an umat kristiani? (dengan menerapkan paham islams (banyak islam) ) harusnya kita melihat secara adil jangan asal 'membeo'. kita harus meletakkan keduanya secara adil dan proporsional. kajian yang kritis dan mendalam tentang sejarah, konsep dan fenomena modern terhadap kekristenan dan agama2 lain sangatlah diperlukan supaya tidak dengan mdah menggeneralisir masalah. karena pengabaian kajian2 kritis diatas akan menyimpulkan bahwa semua agama adalah sama,( ini bisa kita lihat dari pemikiran Huston smith, john hick, WC Smith, dan juga beberapa ulama muslim semisal husein nasr dan frichof schuon)
merujuk kepada pendapat mas ni'am mengenai teori objektifitas (metode yang bags akan menghasilkan objektifitas). kita harus melihat bahwa banyak dari teori2 dan metodologi yang lahir dari latar belakang yang khas sejarah Barat-Kristen tidak begitu saja dengan mudahnya diaplikasikan untuk studi terhadap Islam. disini dituntut kejelian peneliti dalam memilh dan memilah metodologi untuk penelitiannya. sebab apa? islam tidak mengalami problem teologis-historis sebagaimana yang dialamai kristen.
dengan demikian kita bisa menghidar tradisi latah dan 'membeo' kepada istilah asing (pengadopsian sah2 saja asal melalu proses islamisasi' dan penyaringan yang adil dan jangan sampai sang tamu (Barat) kemudian mengganti posisi tuan rumah(Islam) ) tanpa melakukan kajian ktiris-historis sebelumnya.
Islam bukanlah historical religion, al quran juga bukan merupakan 'karangan' rasulullah SAW, tapi Islam adalah agama wahyu dan alqur'an adalah wahyu dan bukan karangan manusia.
allahumma arina al haqqa haqqan war zuqna ittiba'ah
Why Do They Hate Us?
banyak sekarang ini pemerhati Islam baik muslim maupun non-muslim yang bertanya tanya, kenapa agama islam dan umatnya sering -untuk tidak dikatakan selalu- menjadi target kolonialisme dan kritikan barat dibanding dengan agama2 yang lain dalam catatan sejarah manusia? tidak kita lihat kritikan2 Barat yang bertubi2 -selama beratus2 tahun lamanya- terhadap siddarta gautama, lao tse, kung fu tse, dibanding dengan kritikan mereka terhadap rasulullah SAW......
semalem sewaktu 'hunting' buku bersama temen saya marli, saya menemukan 'jawaban' yang ditulis oleh muhammad naquib al attas dalam bukunya Islam and Secularism (kalau tidak salah di bab empat) secara ringkas beliau menyatakan alasan atau sebab2 mengapa Barat 'menyerang' Islam, muhammad SAW serta umatnya secara bertubi tubi
1- kebangkitan islam diatas pangung sejarah peradaban manusia telah menantang keuniversalan kristen beserta ajaranya
2- sejak awal mulanya, ajaran islam telah menggugat dsar2 agama kristen dan aqidahnya dengan menolak bahwa Allah tidak beranak pinak serta hakikat nabi isa serta siti maryam yang berlainan dengan ajaran mereka
3- al quran juga dngan jelas menceritkan tingkah laku yahudi (bani israil) dalam menyelewengkan ajaran para nabi dari bani israwl
4- islam telah merubah tubuh dan jiwa orang orang barat secara revolusioner dalam berbagai bidang (linguistik,budaya,susial,keilmuan dan ekonomi)
5- perluasan islam yang massif termsuk wilayah2 yang dimilki oleh Bizantium
5- Islam mempunyai potensi besar untuk bangkit kembali berdasarkan dengan konsep2 tajdid dan mampu utuk menantang hegemoni barat pada masa yang akan datang.
demikian beberapa alasan yang disimpulkan oleh al attas dalam buknya Islam and secularism.....
yang ingin saya garisbawahi disini adalah, bagaimana seharusnya kita sebagai Muslim menyikapi hal ini?apakah kita harus selalu apriori terhadap bart dan selalu curiga? ataukah kita menerima merka apa adanya tanpa kritik yang objektif....
menurut hemat saya, islah adalah agama dan worldview (baca: pandangan hidup) yang tlah melahirkan peradaban gemilang dan memukau
dan untuk mempertahankannya dan mengembangkannya tidak berarti menolak mentah2 msuknya unsur2 barat (peradaban asing). sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.....
dr hamid fahmi pernah menulis "jangan sampai tamu (peradaban asing) menjadi tuan rumah di rumah kita (peradaban Islam)
semalem sewaktu 'hunting' buku bersama temen saya marli, saya menemukan 'jawaban' yang ditulis oleh muhammad naquib al attas dalam bukunya Islam and Secularism (kalau tidak salah di bab empat) secara ringkas beliau menyatakan alasan atau sebab2 mengapa Barat 'menyerang' Islam, muhammad SAW serta umatnya secara bertubi tubi
1- kebangkitan islam diatas pangung sejarah peradaban manusia telah menantang keuniversalan kristen beserta ajaranya
2- sejak awal mulanya, ajaran islam telah menggugat dsar2 agama kristen dan aqidahnya dengan menolak bahwa Allah tidak beranak pinak serta hakikat nabi isa serta siti maryam yang berlainan dengan ajaran mereka
3- al quran juga dngan jelas menceritkan tingkah laku yahudi (bani israil) dalam menyelewengkan ajaran para nabi dari bani israwl
4- islam telah merubah tubuh dan jiwa orang orang barat secara revolusioner dalam berbagai bidang (linguistik,budaya,susial,keilmuan dan ekonomi)
5- perluasan islam yang massif termsuk wilayah2 yang dimilki oleh Bizantium
5- Islam mempunyai potensi besar untuk bangkit kembali berdasarkan dengan konsep2 tajdid dan mampu utuk menantang hegemoni barat pada masa yang akan datang.
demikian beberapa alasan yang disimpulkan oleh al attas dalam buknya Islam and secularism.....
yang ingin saya garisbawahi disini adalah, bagaimana seharusnya kita sebagai Muslim menyikapi hal ini?apakah kita harus selalu apriori terhadap bart dan selalu curiga? ataukah kita menerima merka apa adanya tanpa kritik yang objektif....
menurut hemat saya, islah adalah agama dan worldview (baca: pandangan hidup) yang tlah melahirkan peradaban gemilang dan memukau
dan untuk mempertahankannya dan mengembangkannya tidak berarti menolak mentah2 msuknya unsur2 barat (peradaban asing). sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.....
dr hamid fahmi pernah menulis "jangan sampai tamu (peradaban asing) menjadi tuan rumah di rumah kita (peradaban Islam)
Hakekat Ilmu
Ilmu adalah suatu hal yang mulia, maka dari itu, beramal tanpa ilmu sama dengan ‘membabi-buta’. Merupakan kewajiban bagi tiap Muslim sebelum beramal adalah berilmu. Agar aqidah kita lurus dan terjaga kualitasnya, ia harus selalu kita pupuk dengan ilmu. Bila ‘pupuk’ ilmu ini benar, maka imannya pun akan tumbuh subur dan lurus, dan si empunya akan dihiasi dengan sikap dan sifat-sifat yang terpuji. Namun sebaliknya, apabila ilmunya tersebut adalah ‘racun’ maka ia akan menghancurkan tanaman iman dalam diri si Muslim. Yang akan membawa dia pada sikap skeptik agnostik dan melihat segala sesuatu dengan kacamata positivisme. Kebenaran bukanlah hal yang abadi, namun relatif……
Karena itu, kemungkaran yang terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemungkaran dibidang aqidah atu kemungkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Kemungkaran ini berasal dari ‘rusaknya’ ilmu yang telah berubah statusnya dari pupuk menjadi racun. Kemungkaran di bidang ilmu lebih besar dibandingkan dengan amal. Sebagai contoh, dosa pengingkaran kewajiban sholat 5 waktu lebih besar dibandingkan dengan orang yang meninggalkan shalat karena alasan ‘malas’, tapi masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Demikian juga pengingkaran terhadap ayat-ayat alqur’an adalah lebih besar dosanya dibandingkan dengan orang yang tidak mengamalkannya akan tetapi masih meyakini kevalidannya….
Marilah kita pupuk iman kita dengan ilmu yang benar-benar ilmu, bukannya ‘racun’ yang akan mengobrak-abrik keimanan kita…….
Amal memang merupakan hal yang signifikan dalam Islam, tapi itu saja tidaklah cukup…..harus ada ilmu yang benar untuk mengarahkan amal tersebut….
Wallahu warasuluhu a’lam
Karena itu, kemungkaran yang terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemungkaran dibidang aqidah atu kemungkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Kemungkaran ini berasal dari ‘rusaknya’ ilmu yang telah berubah statusnya dari pupuk menjadi racun. Kemungkaran di bidang ilmu lebih besar dibandingkan dengan amal. Sebagai contoh, dosa pengingkaran kewajiban sholat 5 waktu lebih besar dibandingkan dengan orang yang meninggalkan shalat karena alasan ‘malas’, tapi masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Demikian juga pengingkaran terhadap ayat-ayat alqur’an adalah lebih besar dosanya dibandingkan dengan orang yang tidak mengamalkannya akan tetapi masih meyakini kevalidannya….
Marilah kita pupuk iman kita dengan ilmu yang benar-benar ilmu, bukannya ‘racun’ yang akan mengobrak-abrik keimanan kita…….
Amal memang merupakan hal yang signifikan dalam Islam, tapi itu saja tidaklah cukup…..harus ada ilmu yang benar untuk mengarahkan amal tersebut….
Wallahu warasuluhu a’lam
HIKMAH
Islam selalu memerintahkan umatnya untuk selalu mencari ilmu dimanapun dan kapanpun berada, sebuah hadits yang tidak asing lagi ‘carilah ilmu sampai ke negeri China’ merupakan gambaran betapa islam menjunjung tinggi martabat ilmu (baca:akal) karena maklna yng bisa kita ambil dari hadist tersebut adalah, kita tidak hanya diperintahkan belajar ilmu-ilmu agama, tapi juga berkewajiban untuk belajar ilmu ‘dunia’, dari hadist diatas juga bisa kita ambil kesimpulan bahwa kita, umat Islam diperintahkan untuk tidak bersikap apriori terhadap hal-hal asing. Hikmah, dimanapun berada dan dari manapun asalnya, adalah merupakan harta orang Muslim yang hilang. Maka kita harus mengambilnya. Maslahnya sekarang, yang wajib kita pahami terlebih dahulu adalah apa yang dimaksud dengan ‘hikmah’ dan untuk apa ia digunakan. Jangan sampai minyak goreng dibuat keramas dan sampo dibuat goreng ikan…..harus tahu mana minyak goreng mana sampo. Dan kemudian harus mengetahui apa kegunaan masing2 dari sampo dan minyak goreng. Demikian juga ilmu2 yang datang dari barat, kita harus tahu benar apa dan bagaimana ia, dan apa pula gunanya. Tidak perlu terburu2 dengan hal2 yang baru yang nampaknya ‘logis’ dan ‘mencerahkan’. Ada pepatah jawa yang bilang, ‘ojo gumunan’. Janganlah mudah kagum dan terpesona oleh hal-hal yang tampaknya menyilaukn mata, lalu tanpa basa basi membuang khazanah lama yang sudah tahan uji selama ratusan tahun.
Subscribe to:
Posts (Atom)